Web Toolbar by Wibiya
 
  1.  

    Cara kita merespon hal-hal kecil atau hal-hal yang seolah remeh mencerminkan cara bagaimana kita akan merespon hal-hal yang lebih besar dalam hidup ini. Kebiasaan buruk dan baik dimulai dari kegiatan kecil yg sama yg kita lakukan tanpa sadar selama ini, hal tersebut yg akhirnya membentuk karakter kita hari ini. Jika kita perhatikan persis kita melakukan hal yg sama berulang kali, kesalahan yg sama berulang kali, setiap saat. Kita kurang sadar apa yg kita lakukan selama ini, jika kita sadar kita akan mengerti dan selanjutnya lebih baik lagi dan lagi merespon kesalahan yg sama, pada akhirnya menjadi lebih baik.
    Pada akhirnya memang pengembangan karakter yg membuat seseorang menjadi orang yang besar bukan pencapaianya. Orang mungkin saja mencapai segala hal di dunia, karakter yg minim setiap saat membuat mereka kembali jatuh. Kesadaran Krishna adalah tentang pengembangan karakter diri.

    - Bhajananandi-Tulasi Sudama Das -

    September 16, 2014

     
     
     
  2.  

    Besarnya keyakinan seseorang dalam berjapa ditunjukan dari bagaimana dia dapat menghormati. Telah banyak uraian dalam Veda menyatakan seseorang yang bahkan sekali mengucapkan nama suci Tuhan mereka bukan orang yg biasa, mereka mulia. Ketika kita tidak bisa menghormati, dan memulai mengkritisi, keyakinan ini yg dipertanyakan ?

    - Bhajananandi-Tulasi Sudama Das -

    September 15, 2014

     
     
     
  3.  

    Kewajiban selalu lebih banyak dari waktu yang tersedia, karena itu bantulah orang lain untuk memanfaatkan waktunya. Pada akhirnya semua di dunia bukan tentang menyelesaikan, bukan juga tentang menjalani, tapi tentang memanfaatkan. Mereka yg sukses, hanya mereka yg dapat menempatkan presisi yg tepat dalam setiap keadaan, setiap waktu. Penegasanya bukan tidak ada waktu… saya pikir hidup ini tentang memaknai arti sebuah prioritas…

    - Bhajananandi-Tulasi Sudama Das -

    September 15, 2014

     
     
     
  4.  

    Pesan saya hanya “Jangan pernah melupakan seorang yg menyatakan sesuatu kepada anda ketika dia marah” Itu bener-bener disaat kita mendapat kejujuran tentang diri kita darinya, apa yg sebenarnya mereka lihat dari diri kita, dan kejujuran ini tidak akan anda dapatkan ketika keadaan biasa saja. Kebanyakan seseorang menutupi hal itu rapat-rapat. Ya.. selanjutnya saatnya mengkoreksi diri…
    Marah diciptakan oleh Tuhan bukan tanpa sebab. Semua itu ada untuk kita dapat mengerti, untuk kita dapat sensitif dalam pergaulan, mengerti pribadi seseorang, menjaga hati, meningkatkan diri dalam kesopanan, etika dan lain sebagainya. Daripada kita menyerang balik seseorang yg sedang marah kepada kita, kita tetap ambil semua yg dia nyatakan sebagai introspeksi diri. Keinsafan atau introspeksi dalam kondisi tegang seperti ini, tidak bisa kita lakukan jika kita tidak mempunyai pengendalian diri, super sabar, dan ingin mengevaluasi diri, pada kondisi ini kita cenderung membalas bukan menerima. Salah satu penyebab perselisihan, salah paham hanya, orang mendengar untuk membalas bukan menerima.

    - Bhajananandi-Tulasi Sudama Das -

    September 15, 2014

     
     
     
  5.  

    September 15, 2014

     
     
     
     
     
  6.  

    September 15, 2014

     
     
     
     
     
  7.  

    September 15, 2014

     
     
     
     
     
  8.  

    This Satyakäma was the son of a prostitute. He was not a brähmaëa’s son. So he wanted to become brähmaëa. So he went to Gautama Muni, “Sir, please initiate me. I want to become a brähmaëa.” Çüdras were not initiated. In the formerly… Çüdras are common. Therefore Gautama Muni inquired that “What you are? Because I do not initiate who is not born of a brähmaëa father.” So he said, “I do not know.” “So go to your mother. Ask whose son you are.” The mother said, “I do not know.” So he came and he said that “Sir, my mother does not know whose son I am.” So Gautama Muni accepted him as disciple because he was truthful. He saw that he has got the brahminical qualification, truthful. Everyone is not willing that to admit that he is the son of a prostitute. No. But he admitted, “Yes, my mother does not know by whom I was begotten.” So this is qualification.

    - Bhajanandi-Tulasi Sudama Das -

    September 11, 2014

     
     
     
  9.  

    Ketika seseorang mendapatkan hasil dari kesulitan pekerjaannya serta menganggap bahwa hasil yang diperoleh tak elak merupakan bagian dari kesulitan itu, maka kesulitan yg sama tersebut yang telah berlalu akan hanya tampak menyenangkan buatnya.
    Usaha-usaha yang kita bangun dalam kesadaran Krishna dibangun dengan landasan yg sama, tentang bagaimana kita menilai kesulitan itu saat ini bukan menunggu untuk menilai nanti. “Kesulitan yg kini saya hadapi, suatu saat akan menjadi menyenangkan buat saya, membuat kebahagiaan tersendiri buat saya”

    - Bhajananandi-Tulasi Sudama Das -

    September 10, 2014

     
     
     
  10.  

    Jika orientasi pembebasan kita merupakan kebahagiaan setelah adanya kematian. Kita akan menuju ketitik itu, jika orientasi kebahagiaan berpusat kepada sekarang, setelah kematian, maupun nanti di alam rohani sana. Kita akan menjadi pribadi yang penuh kebahagiaan bahkan pada saat kehidupan ini. Inilah Prinsip yg coba kita bangun dalam kesadaran Krsna.
    Jika kita ingat dengan cerita “berkah sang sadhu”, dia memberikan anugrah kepada Vaisnava “Engkau boleh hidup atau meninggal.” karena tidak ada bedanya kehidupan vaisnava sekarang maupun nanti. Mereka selalu berbahagia, dan itu dimungkinkan kita dapatkan bahkan di dunia ini.

    - Bhajananandi-Tulasi Sudama Das -

    September 10, 2014

     
     
     
  11.  

    oḿ pūrṇam adaḥ pūrṇam idaḿ pūrṇāt pūrṇam udacyate… Kepribadian Tuhan yang Maha Esa adalah sempurna di dalam segala hal. Kenapa Sri Krsna muncul sebagai Sri Caitanya Mahaprabhu, karena beliau tidak mendapatkan rasa yg didapat Srimati Radharani bukan? apakah itu kekurangan. ya.. itu kekurangan dari Tuhan…. bagaimana kita menghubungkan sloka ini beliau sebagai yg maha sempurna ? Jika kita berusaha mengerti sloka ini dengan rendah hati kita akan menemukan keagungan Sri Caitanya Mahaprabhu yg maha sempurna. Sempurna artinya memiliki apapun dalam segala hal, dalam segala bentuknya. Jika beliau hanya memiliki kelebihan dan tidak memiliki kekurangan, beliau tidak disebut sempurna. Sempurna artinya memiliki segala hal dengan pengertian kekurangan dalam kerohanian yg mutlak. Kita hendaknya berbahagia memiliki Sri Caitanya Mahaprabhu kini disetiap rumah, yg banyak orang tidak menerima beliau. Karena mereka sulit mengerti hal ini. Sri Caitanya Mahaprabhu adalah kepribadian yang maha sempurna, karena beliau melengkapi kekurangan yg dimiliki Sri Krsna sendiri, beliau menjadi seorang yg kurang dalam segala hal “Karena saat ini beliau beliau merasakan menjadi penyembah” Secara alami beliau akan merasakan penuh kekurangan dalam segala hal, itu karakteristik dari penyembah yg murni. Karena Sri Krsna kurang “kekurangan” itu dan Sri Caitanya Mahaprabhu melengkapinya. Karena kita memuja beliau, kita sedang memuja kesempurnaan Sri Krsna dalam segala hal.
    Semoga kita dapat terus disemangatkan…

    - Bhajananandi-Tulasi Sudama Das -

    September 10, 2014

     
     
     
  12.  

    Manusia lahir tidak langsung jahat, baik. Yang jahat hanya karena mereka salah memilih sikap. Merokok, minum-minuman keras, apapun itu kejahatan, dan buruk jenisnya adalah hal yang dipaksakan kepada Makhluk hidup. Tidak ada yg lahir langsung memiliki kesukaan untuk merokok, meminim minuman keras dan lain sebagainya. Oleh karena itu makhluk hidup sejatinya merupakan pribadi yg baik. Keadaan dalam hidupnya yg memahat kepribadianya hari ini, tabiatnya. Semua memiliki hak dan kepasitas yg sama menjadi lebih baik di kehidupan ini, saat ini, dan itu bukan karena karma, tapi karena kita. Kita yg belum mampu memilih sikap kita dalam hidup untuk menjadi pribadi yg lebih baik.

    - Bhajananandi-Tulasi Sudama Das -

    September 10, 2014

     
     
     
  13.  

    "Sabar….. orang sabar pasti menang…."
    Krsna berkata kepada Arjuna: Aku adalah maut , aku adalah prinsip yg menghasilkan segala sesuatu yg belum terjadi. Di kalangan wanita, Aku adalah kemasyuran, keuntungan, bahasa halus, ingatan, kecerdasan, ketabahan hati dan kesabaran [Bg. 10.34]
    “Daftar tujuh kehebatan yang disebut yaitu kemasyhuran, keuntungan, bahasa yg halus, ingatan, kecerdasan, ketabahan dan kesabaran dianggap sifat-sifat wanita. Kalau seseorang memiliki semua sifat tersebut atau berapa diantaranya, dia menjadi mulia” [Penjelasan SP]
    Kenapa Sri Krsna menyebutkan dikalangan wanita beliau adalah kesabaran, apa maksdnya? Itu menyemangatkan kalian, bahwa itu ada disana sekarang dan anda mempunyai kualifikasi untuk berjuang dari masalah yg ada.

    - Bhajananandi-Tulasi Sudama Das -

    September 09, 2014

     
     
     
  14.  

    Sebenarnya, untuk memutus rantai pengulangan peristiwa itu tidak perlu teknik dan metode … Kuncinya adalah menerima peristiwa itu apa adanya, menyelami apa pelajarannya / hikmah di baliknya, sehingga kita bisa mengubah sudut pandang atas kejadiannya …

    Namun mengapa untuk menerima peristiwa apa adanya itu kadang sulit? Mengapa untuk menyelami pelajaran dari sebuah peristiwa itu kadang tidak mudah? Mengapa untuk mengubah sudut pandang kadang kadang butuh waktu yang lama? Karena ada rekaman emosi yang intensif dalam diri yang menghalangi kita untuk menerima, belajar dan mengubah sudut pandang atas peristiwa …

    Jadi apa pe-er untuk memutus rantai pengulangan peristiwa buruk dalam hidup? Ya membuang rekaman emosi dalam diri yang berkenaan dengan peristiwa itu … Misalnya anda pernah dulu pernah dikhianati, lalu hingga kini kalo ingat peristiwa itu masih ada emosi negatif yang intensif … Masih jengkel misalnya … Waspadalah karena itu berarti rekamannya masih ada … Sehingga ada kemungkinan mengulang untuk kesekian kalinya …

    Saat frekuensi emosi anda masih berada di situ … Maka siaran “televisi kehidupan” anda yang tampil ya itu …

    - Arif Rh on FB -

    September 09, 2014

     
     
     
  15.  

    Kehidupan selalu mengajari dengan caranya sendiri. Kadang berulang-ulang, kadang cuma sekali, tergantung pemahaman dan kepekaan kita. Sampai akhirnya kita sadar, mengerti dan ingin berubah.

    - Bhajananandi-Tulasi Sudama Das -

    September 09, 2014