Web Toolbar by Wibiya
 
  1.  

    Berpura pura yg membuat capek, jujur akan selalu ringan.

    - Bhajananandi-Tulasi Sudama Das -

    July 10, 2014

     
     
     
  2.  

    Ketika kita jujur kita telah membuat usaha dalam diri untuk berubah.

    - Bhajananandi-Tulasi Sudama Das -

    July 10, 2014

     
     
     
  3.  

    Satu-satunya yg menghalangi seseorang berbuat baik hanya masihnya ada kepercayaan yg kuat dalam diri bahwa berbuat jahat itu menyenangkan seseorang yg melakukanya. Mereka sepenuhnya resah, takut dan menderita dalam iri hati, rasa marah, walaupun mereka disebut menikmati sesuatu dari merampok, menyakiti serta apapun itu jenisnya itu tidak lebih dari usaha untuk menutupi kesengsaraan yg ada dalam dirinya. Ini ada pesan dari saudara sy Sri Krisna Sankirtanam “seorang yg baik mungkin belum mendapat kebaikan tetapi telah terhindar dari keburukan.”

    - Bhajananandi-Tulasi Sudama Das -

    July 10, 2014

     
     
     
  4.  

    Menurut saya nama suci diumpamakan sebagai obat untuk diri ini karena tidak cukup untuk hanya dengan mengetahui penyakit yg dapat disembuhkan dari labelnya, bahkan tidak juga cukup mengetahui ‘ini’ obatnya, yg penting sy menyadari sy sakit dan menyiapkan diri untuk meminumnya.

    - Bhajananandi-Tulasi Sudama Das -

    July 10, 2014

     
     
     
  5.  

    Setiap orang sudah pasti menua, tapi belum tentu mendewasa.

    - Bhajananandi-Tulasi Sudama Das -

    July 10, 2014

     
     
     
  6.  

    Pekerjaan guru kebanyakan seperti layakanya profesor di bidang medis di universitas- dia tidak mempunyai urusan membuat murid, tetapi dokter. Begitupula pengajar dia tidak mempunyai urusan membuat murid tetapi membuat seseorang yang mampu menjadi guru. (Bhaktisidhanta Sarasvati Thakur)

    - Bhajananandi-Tulasi Sudama Das -

    July 09, 2014

     
     
     
  7.  

    Hanya ketika kita sedang berjapa kita tahu letak kelemahan kita dimana. Perhatikan kemana pikiran pada saat itu mengembara, dapat disimpulkan bahwa itu ikatan penuh yang ada dari diri kita saat ini, terlebih itu kegiatan yang sangat kita beri perhatian secara halus dalam pemikiran kita pada saat ini. Seseorang yg berjapa dan melakukan evaluasi mengerti dimana kelemahanya dan apa yg harus dilakukan untuk menimilasir hal ini. Pengertian sederhana dari hal ini adalah berjapa adalah hubungan langsung kepada Sri Krsna dan hal yang lain yang menghambat pada saat hubungan itu merupakan suatu dinding yang merupakan indikasi hambatan yang ada di dalam diri di dalam mencapai kepada Sri Krsna.

    - Bhajananandi-Tulasi Sudama Das -

    July 09, 2014

     
     
     
  8.  

    Orang-orang telah melupakan bahwa usaha untuk belajar tidaklah melulu untuk mengejar dan membuktikan sesuatu, namun usaha untuk terus belajar, menggali diri adalah perayaan dan penghargaan sebagai pembuktian cinta. Ini membukitkan kita telah mampu lepas dari belenggu masa lalu, dan kini kita berusaha, kita merangkak naik, membuktikan nyali kita untuk tetap menjadi seseorang yg penuh usaha.

    Karakter diri untuk terus berusaha menggali diri dalam segala sisi terutamanya dalam menjadi penyembah, hal tersebut mencerminkan karakter yg sabar, toleransi, berserah diri dan penuh tanggung jawab. Seseorang tidak dapat berusaha jika dia tidak mempunyai komitmen, tujuan yang tanpa batas dalam hidup untuk memuaskan Sri Krsna dalam segala kekurangan yg ada di dalam diri. “Utsahan” (Upadesamrta 3) ini elemen penting yang ada dalam cinta. Jika kita cinta kita akan mempunyai usaha yg tanpa batas untuk seseorang yg kita cintai, anak, suami, istri, tentunya Tuhan jg… Teruslah berusaha karena usaha merupakan barometer cinta kasih yg ada dalam diri kita terhadapNya.

    - Bhajananandi-Tulasi Sudama Das -

    July 09, 2014

     
     
     
  9.  

    Hukum hidup memang terkadang tidak perlu ditanyakan dan diketahui alasan detailnya, terkadang kita harus terima saja, karena hidup memang bukan hanya untuk bertanya ‘mengapa ?’ melainkan ‘apa ’ yg kita dapat lakukan saat ini.

    - Bhajanandi-Tulasi Sudam Das -

    July 09, 2014

     
     
     
  10.  

    Aku mengagumi ketidaksempurnaanmu. Justru karena itu, aku rasa kau masih manusia.

    - Bhajananandi-Tulasi Sudama Das -

    July 09, 2014

     
     
     
  11.  

    Air selalu berusaha menuju lautan, sekalipun batu menghadang, dia akan mencari celah dimana dia bisa terus turun kebawah, mengalir berusaha terus merendah. Tidak tahu bila ternyata dia harus berhenti di ladang-ladang, berhenti di sumur, atau entah dimana, dia hanya berusaha semaksimal mungkin untuk dapat memberi manfaat kepada orang lain. Hidup kita seringkali penuh dengan impian-impian besar, sebelum impian itu tercapai. Ternyata kita dibelokan oleh takdir, untuk mencapai hal yg mungkin kita tidak pernah bayangkan sebelumnya. Hanya kita mungkin saat ini sedang mencari-cari celah-celah mengapa kita diciptakan. Apakah hanya sekedar mengalir memenuhi kehidupan, atau menjadi manfaat lain untuk orang lain. Bagaimana jika dikaitkan bagaimana Datattreya mempelajari ini dari air “saintly person is just like water because he is free from all contamination, gentle by nature, and by speaking creates a beautiful vibration like that of flowing water. Just by seeing, touching or hearing such a saintly person, the living entity is purified, just as one is cleansed by contact with pure water. Thus a saintly person, just like a holy place, purifies all those who contact him because he always chants the glories of the Lord. [SB.11.7.44]

    - Bhajananandi-Tulasi Sudama Das -

    July 09, 2014

     
     
     
  12.  

    Biasanya ketika rencana kita gagal, maka rencana Sri Krsna sedang dimulai. Kepercayaan ini hendaknya harus kita miliki setiap saat dalam menerima ujian. Tetap optimis… semua akan lebh baik…

    - Bhajananandi-Tulasi Sudama Das -

    July 09, 2014

     
     
     
  13.  

    Hilangkan sifat rendah diri dalam diri karena sifat ini akan membuat diri kita serba susah kalau ingin sukses.Rendah diri membentuk karakter lemah dan mudah putus asa serta selalu bimbang dalam mengambil keputusan.Terkadang menempatkan posisi kalah padahal belum tentu kalah.Sifat rendah diri merupakan ketidakberdayaan seseorang mengamati kemampuan yg sesungguhnya.Setiap Individu memiliki kemampuan masing masing,jika mampu mengasahnya akan menumbuhkan rasa percaya diri dalam menjalani hidup ini.memang perlu waktu untuk mengubahnya dan juga perlu terapi dari pergaulan yg benar supaya sifat rendah diri berangsur-angsur hilang dalam diri.Apabila sifat rendah diri sudah hilang dan menjadi rendah hati maka kebahagiaan dan kedamaian hati akan selalu menghiasi taman hati yg paling dalam

    - Chiran Jiva Das -

    July 02, 2014

     
     
     
  14.  

    Ada kala dimna kita hrs mngalah. Mengalah bkn brrti kalah. Mengalah bkn brrti lemah. Disaat kita mngalah itu akn mngjrkn kita tuk mngerti. Mngrti keadaan n mngrti org lain. Mngjrkn kita tuk mnghormati. Mnghormati mreka yg ingin mngalahkanmu. Mngjrkan kita tuk lbh sbar n toleransi. Sbar trhdp amarah n keegoisan yg mnghantam. Toleransi trhdp derita,cacian,hinaan,n pnyerangan yg mndesak. Mengalah mmbwt kita lbh baik krn itu brrti mluangkn wkt tuk brbenah. Mmbenahkn diri bla kita slh. “Mngalahlah hngga tak seorg pun dpt mngalahkanmu. N mrendahlah hngga tak seorg pun dpt mrendahknmu”. Kata pak gobind.
    Dlm ajaran vaisnava jua kita diajarkan tuk bljr mngalah n tdk brusha mmbela diri. Biarkan mreka yg tau siapa dirimu yg mmbela.
    Dlm ajaran Sri Caitanya Mahaprabhu jua bgtu. Mngapa kita diajarkn tuk lbh toleransi dri sebtng pohon. Cba liat sbtng pohon yg ada. Ia tak prnh mmbenci angin,badai,n apapun yg mnyakiti srta mrusaknya. Mlh jstru ia mmblsnya dgn mmbrikan kita khidupan.

    - Gaura Hari Prasad -

    July 01, 2014

     
     
     
  15.  

    Tidak sedikit orang yang enggan menjadi pengajar karena pengajar bukan tentang sesuatu yang anda buang, tetapi tentang bagaimana menangkapnya kembali. Pengajar mengambil resiko dalam pengajaran karena pada saatnya nanti boomberang itu akan datang kembali dan dia harus disiapkan untuk menerima hal yang sama yang telah di ajarkan. Tidak mudah menjadi pengajar, cemooh akan datang kapanpun. Setiap saat berlindung kepadaNya itu yg hanya seseorang dapat lakukan.

    - Bhajananandi-Tulasi Sudama Das -

    July 01, 2014