Web Toolbar by Wibiya
 
  1.  

    Para acharya tidak sedang memberi contoh, merendahkan diri, mereka sedang jujur. Karena seseorang mungkin saja memberi contoh teladan, atau kita cenderung me-Ren-dah-kan diri, tapi kita tidak sedang jujur. Para acharya memegang prinsip kejujuran, karena kejujuran yg melahirkan contoh teladan yg selanjutnya membangun karakter mulia, dan jati diri yg rendah hati.
    Karakter yg terlihat di luar selama ini, terpendam lebih banyak di dalam diri. Kita tidak jujur terhadap diri sendiri, oleh karena itu kita tidak bisa menjadi pribadi yang rendah hati. Kita lebih suka membela diri dari kesalahan yang kita buat. Belajar untuk jujur adalah belajar untuk rendah hati. Yang ada dari setiap kesempatan kita berusaha untuk menutupi segala hal dari keadaan yang sebenarnya. Ketika kita berusaha untuk belajar jujur kepada diri sendiri dan orang lain, kita telah belajar meminimalisir ego kita.
    Pengetahuan bukan sesuatu yg dipaksa, itu mutlak pemberian Sri Krsna untuk kita dapat belajar, dan hal ini kita tidak dapatkan dari membaca buku, melainkan didapatkan melalui praktik nyata yg kita coba terapkan. Ketika seseorang benar-benar mengerti kedudukan pengetahuan, seseorang akan menjadi pribadi yg fleksibel. Dia tidak akan memaksakan kehendaknya, karena dia mengerti bahwa seseorang harus di kedudukan pengetahuannya saat ini untuk belajar. Pengetahuan mempunyai kedudukanya tersendiri bagi setiap orang, dia mempunyai jalan yg tepat untuk masing-masing individu saat ini. Karena keterbatasan kemampuan dirinya untuk dapat mengimbangi persoalan yang ada, dia dianugrahi dengan kemampuan pengetahuan yg sama. Karena hanya dari level pengetahuan itu dia nantinya dapat belajar untuk meningkatkan diri.
    Ketika kita bisa sejenak memperhatikan diri sendiri, bersifat kritis terhadap diri sendiri, kita bahkan tidak akan pernah menemukan waktu untuk mengkritisi orang lain.

    - Bhajananandi-Tulasi Sudama Das -

    October 12, 2014

     
     
     
  2.  

    Mengkritik, menyalahkan, menilai itu mudah… untuk menerima sesuatu dengan berbagai sudut pandang yg berbeda itu yg sulit. Kita tidak akan pernah belajar dengan cara ini… ketika kita sudah memulai menyisihkan ego yg ada dalam diri. Kita akan melihat semua dalam kesatuan yg utuh untuk melayani Sri Krsna, dalam berbagai kapasitasnya yg berbeda.

    - Bhajananandi-Tulasi Sudama Das -

    October 12, 2014

     
     
     
  3.  

    Bukan sedang berfilosofi, mengungkapkan diri atau merasa pantas untuk berbagi, keras atau mengkritik. Bukan juga ungkapan pengetahuan yg ada, atau tentang menulis, membuai kata dengan baik, karena betapapun kita berusaha menulis dengan baik, menekan sekuat tenaga, tinta hitam itu tidak akan ada guna pada papan hitam yang sama. Ketika kita sudah memulai menyucikan diri dan pada akhrinya hati itu bersih, kita akan menulis dengan leluasa dan setiap kata akan mempunyai makna yg berarti pada papan hati tersebut. Berbagi memupuk seseorang menjadi pribadi yg tulus yg berusaha menggali diri. Sedikit seseorang yg ingin berbagi, karena semua itu menuntut kita benar-benar lepas menuangkan sesuatu ditengah seseorang yg akan mengkritik atau mencemooh kita. Seorang takut atau enggan menjadi pengajar karena pengajaran bukan sesuatu yg kita buang, tetapi tentang menangkapnya kembali. Suatu saat itu akan menjadi bommerang dan kita harus disiapkan untuk menangkapnya kembali karena mereka harus bisa menjadi contoh teladan. Yang membedakan pengajar dan pembicara adalah dia mempraktekan apa yg dia katakan. Kalau mau damai mungkin pilih diem aja, tetapi itu bukan prinsip kesadaran Krsna. Apapun baik dan buruknya kita, kita berbagi… bersama mencoba saling mengingatkan… Berbagi baik dan buruk kita untuk orang lain dapat belajar dari hal itu.

    - Bhajananandi-Tulasi Sudama Das -

    October 12, 2014

     
     
     
  4.  

    When I was 5 years old, my mother always told me that happiness was the key to life. When I went to school, they asked me what I wanted to be when I grew up. I wrote down ‘happy’. They told me I didn’t understand the assignment, and I told them they didn’t understand life.

    - John lennon -

    October 12, 2014

     
     
     
  5.  

    Kalau mau jujur kita sering berdoa dari satu hal ke hal yg lainya, dari satu keperluan ke keperluan lainya. Terkadang keinginan itu juga terpenuhi dan kita kembali beranjak ke keinginan lainya. Karena sebenarnya ukuran doa kita merupakan “pencapaian”, entah pencapaian dalam hidup karir, jodoh dan apapun bentuknya. Sayangnya doa dengan tipe seperti ini tidak pernah berunjung pada pencapaian, seperti melompat dari satu keinginan ke keinginan lainya. Itu kenapa para acharnya menyatakan “kita tidak berdoa” selama ini kepada Krsna. Karena doa artinya adanya pencapaian yg nyata, kalau itu keinginan pribadi ya… tidak pernah habisnya… kapan nyampe-nya. Doa artinya kehidupan yg bersyukur karena disaat itu baru kita merasakan pencapaian yg tiada batasnya, anugrah yg tiada batasnya dari Tuhan. Doa artinya memohon, berserah diri, merasa diri tanpa daya dan mengakui kemahakuasaan Tuhan.

    - Bhajananandi-Tulasi Sudama Das -

    October 12, 2014

     
     
     
  6.  

    Kirtan… bhajan… ini yg paling berkesan sebenarnya… dimanapun itu kita dapat merasakan bahkan berhari-hari dari pengucapan Maha mantra. Kayaknya berasa masih menari meskipun musiknya telah lama berhenti

    - Bhajananandi-Tulasi Sudama Das -

    October 12, 2014

     
     
     
  7.  

    Jika anda hidup di dunia ini sendiri dan anda memiliki kekayaan yang tidak terbatas,ketampanan, pengetahuan, tetapi anda hanya sendiri di dunia ini, yang ada andahanya akan frustasi. Tetapi suatu ketika ada burung kecil yang datang menghampiri anda, tentunya anda akan sangat bahagia menerimanya dan anda akan merasa semua yang anda miliki seperti kekayaan dan lain sebagainya seolah tidak ada artinya dibandingkan keberadaan burung kecil ini yang dapat menemani anda.
    Ketika kita berbicara tentang cinta, kita berbicara tentang hubungan timbal balik bukanya kecintaan terhadap benda mati seperti rumah, mobil dan lain sebagainya.Dari analogi diatas benda mati hanya akan menyebabkan kita kedalam kefrustasian, karena mereka tidak mampu memberikan hubungan timbal balik yang sebenarnya kita idamkan. Penegasanya bukanya benda mati tidak dibutuhkan didunia ini,tetapi kita sibuk mencari benda mati dan sering lalai melihat kebutuhan akan hubungan.

    - Bhajananandi-Tulasi Sudama Das -

    September 30, 2014

     
     
     
  8.  

    Pada suatu ketika ada 2 sanyasi sebutlah namanya sanyasi A dan sanyasi B, sanyasi a dan sanyasi B sesungguhnya dari wilayah yang berbeda, suatu ketika sanyasi A dan sanyasi B bertemu dan memutuskan untuk melakukan perjalanan bersama – sama. Selama perjalanan mereka berjapa dan kadang-kadang diskusi tentang filosofi vedanta, singkat cerita sampailah mereka di suatu sungai disanalah mereka melihat wanita yg sangat cantik, dan seketika wanita cantik itu menghampiri kedua sanyasi ini dengan penuh rasa takut wanita ini meminta kedua sanyasi ini “Mohon bantuanya, sebrangkanlah sy, sy tidak berani untuk menyebrang sungai ini , airnya sungguh sangat deras” sanyasi A menjawab: “Mohon maaf….. !! sy tidak bisa, jangankan untuk menyebrangkan, menyentuh badan dari wanita merupakan pantangan untuk sy” wanita inipun merasa sedih dan memalingkan wajah ke sanyasi B, sanyasi B menjawab “ Ya saya akan membantu anda mari..”
    – sanyasi B menyebrangkan wanita cantik ini ke seberang sungai dan kembali ke sanyasi A untuk bersama-sama melakukan perjalanan –
    Dengan penuh rasa bingung sanyasi A bertanya ke sanyasi B, “ Saya tidak habis pikir kenapa anda melakukan hal ini, tahukah anda itu melanggar aturan, tidak seharusnya anda melakukan hal itu” sanyasi B tidak menjawab pertanyaan sanyasi A dan tetap berjalan, sepanjang 5 km kembali sanyasi A bertanya ke sanyasi B “mengapa anda tidak menjawab pertanyaan sy, ini benar-benar melanggar aturan, anda tidak berhak menjadi sanyasi karena melakukan hal ini, anda memeluk wanita itu……. Wa- ni- ta dengan wajah yg manis itu dan tubuh yg cantik sungguh merupakan pantangan buat sanyasi untuk melakukanya, bahkan di sastra dinyatakan bahkan ibu, saudara sekalipun kita hendaknya tidak pernah sendiri dengan wanita. Setelah mendengar hal ini sanyasi B memandang sanyasi A sejenak….. dan sanyasi B menjawab “ayo pergi kita harus bergegas sebari mengambil tasbihnya” dengan khusuknya mengucapkan mantra Hare Krsna, akhirnya sanyasi ini menempuh jarak 15km, dan sampai halnya sanyasi A karena begitu kesalnya, sanyasi A tiba-tiba menyuruh sanyasi B berhenti. Dan sanyasi A bertanya “ sekarang sy mau mendengar jawaban anda, jawablah!!!! Mengapa anda melanggar etika dari sanyasi ?? sy masih terbayang bagaimana anda memeluk wanita itu, -sebari mengejek sanyasi B-
    anda melakukan hal yang tidak terhormat” sanyasi B berpaling ke sanyasi A dan bertanya …. Saya hanya bingung kenapa anda melakukan hal itu !!! sanyasi B menjawab: SAYA JUGA BINGUNG…. Saya bingung kenapa anda masih melakukan hal yang sama dan membawa wanita tersebut dipikiran anda sampai sejauh ini, saya bahkan telah melupakan kejadian itu ????????????????????
    Cerita ini mencerminkan kedudukan sesungguhnya pelepasan ikatan yang dapat kita mulai dari pelepasan ikatan dari membicarakan keburukan orang lain.

    - Bhajananandi-Tulasi Sudama Das -

    September 30, 2014

     
     
     
  9.  

    Setuju sih… Cinta itu suci. Tapi banyak yang sudah tak suci karenanya saat ini… Kalau dilihat dari cinta bhakti yg murni kepada yg kuasa ini ada benernya juga, para penyair itu ternyata gk salah menyimpulkan arti cinta… kwkkwkww…

    - Bhajananandi-Tulasi Sudama Das -

    September 30, 2014

     
     
     
  10.  

    Pada akhirnya seseorang akan kembali kepada Sri Krsna. Karena sejauh apapun dia mencari pada akhirnya dia hanya bisa meminta. nityo nityanam cetanas cetananam eko bahunam yo vidhadahati kaman… beliau yg memenuhi segala keinginan, kita hanya meminta disegenap asa kita.

    - Bhajananandi-Tulasi Sudama Das -

    September 30, 2014

     
     
     
  11.  

    Ada yang tak mencari, namun segera menemukan, karena ia tak sibuk mencari tapi sibuk memperbaiki diri, mengutamakan karunia beliau yg tiada sebabnya. Kita memasuki zaman dimana yang buruk dipuji, yang baik dihina. Yang tulus disangka buruk, yang bermukadua dibangga-banggakan, kini kita berjuang hanya untuk dapat menerima diri sendiri dan orang lain, dan tetap melangkah dengan jujur.

    - Bhajanandi-Tulasi Sudama Das -

    September 30, 2014

     
     
     
  12.  

    September 30, 2014

    Keren

    (Source: solar-citrus, via jasmineyash)

     
     
     
  13.  

    September 25, 2014

    muchukunda:

    watch later

     
     
     
  14.  

    Kita mungkin jatuh cinta kepada kecantikan seseorang atau ketampananya, tetapi ingat akhirnya kita akan hidup dengan karakternya, mencintai karakternya, bukan kecantikan maupun ketampanya.
    Karakter adalah cinta, jika kita ingin mempunyai karakter yg penuh cinta kasih, bhakti, kita harus mempunyai karakter yg baik. Kesadaran Krsna tentang pembangunan karakter, semakin kita mempunyai karakter yg baik semakin kita bisa mencintai dan dicintai.

    - Bhajananandi-Tulasi Sudama Das -

    September 22, 2014

     
     
     
  15.  

    Ada saatnya nanti disaat kita akan tua renta, tidak ada ketenaran, tidak ada kebanggaan lagi dengan diri yg telah lusuh ini, yang tersisa hanya cinta yg terus tetap berjuang untuk menerima. Menerima keadaan, menerima kenyataan, dan menerima yg lainya. Pada akhirnya kita hanya akan hidup dalam cinta yg ada dalam diri kita. Mungkin pada saat itu kita baru akan belajar berserah diri kepada Sri Krsna, atau menyesal dengan keadaan. Badan yg telah lusuh ini juga tidak mampu bangkit bahkan untuk mengubah keadaan menjadi sedikit lebih baik. Dia, cinta… kini menjadi sahabat, membuat diri damai, yg berusaha menenangkan kita setiap saat. Kita sebenarnya saat ini hanya hidup dan berjuang untuk cinta. Semoga terus disemangatkan

    - Bhajananandi-Tulasi Sudama Das -

    September 22, 2014