Web Toolbar by Wibiya
 
  1.  

    According to the injunction of Yajnavalkya, an authority on religious principles, asuddheh sampratiksyo hi mahapataka-dusitah. One is considered contaminated by the reactions of great sinful activities when one has not been purified according to the methods of the dasa-vidha-samskara. In Bhagavad-gita, however, the Lord says, na mam duskrtino mudhah prapadyante naradhamah: [Bg. 7.15] “Those miscreants who do not surrender unto Me are the lowest of mankind.” The word naradhama means “nondevotee.” Sri Caitanya Mahaprabhu also said, yei bhaje sei bada, abhakta-hina [Cc. Antya 4.67], chara. Anyone who is a devotee is sinless. One who is not a devotee, however, is the most fallen and condemned. It is recommended, therefore, that a chaste wife not associate with a fallen husband. A fallen husband is one who is addicted to the four principles of sinful activity — namely illicit sex, meat-eating, gambling and intoxication. Specifically, if one is not a soul surrendered to the Supreme Personality of Godhead, he is understood to be contaminated. Thus a chaste woman is advised not to agree to serve such a husband. It is not that a chaste woman should be like a slave while her husband is naradhama, the lowest of men. Although the duties of a woman are different from those of a man, a chaste woman is not meant to serve a fallen husband. If her husband is fallen, it is recommended that she give up his association. Giving up the association of her husband does not mean, however, that a woman should marry again and thus indulge in prostitution. If a chaste woman unfortunately marries a husband who is fallen, she should live separately from him. Similarly, a husband can separate himself from a woman who is not chaste according to the description of the sastra. The conclusion is that a husband should be a pure Vaisnava and that a woman should be a chaste wife with all the symptoms described in this regard. Then both of them will be happy and make spiritual progress in Krsna consciousness.

    - »> Ref. VedaBase => SB 7.11.28 -

    April 14, 2014

     
     
     
  2.  

    Merasa diri jatuh, rendah, lemah, dan tidak dapat berbuat apa-apa dengan semua hal ini… sangat berserah diri kepadaNya… Catat !!! Ini sebenarnya hari yang paling jujur yang pernah kita lalui dalam hidup ini..

    - Bhajananandi-Tulasi Sudama Das -

    April 14, 2014

     
     
     
  3.  

    Keseriusan anda hanya diukur dari seberapa teratur anda melakukan kegiatan tersebut. Apa kiat dan usaha yang kita tempatkan untuk meraihnya. Jika jatuh…. bangun kembali.. berusaha.. jatuh.. bangun.. kembali… Seseorang yang kuat bukan dia yang tidak pernah jatuh, tetapi seseorang yang tetap bangun kembali setelah kesekian kalinya dia terjatuh menggapai harapanya dalam sadhana, belajar, maupun pelayanan

    - Bhajananandi-Tulasi Sudama Das -

    April 14, 2014

     
     
     
  4.  

    April 14, 2014

     
     
     
     
     
  5.  

    Pada saat kepala terasa berat dengan semua urusan ini, cobaan, dan masalah ini..… jatuhkan… bersujud.. dandavat-lah… memohon, berserah diri dan berdoalah… semua akan berjalan lebih baik

    - Bhajananandi-Tulasi Sudama Das -

    April 13, 2014

     
     
     
  6.  

    Jika tindakan anda menginspirasi org lain untuk berubah, belajar lebih, berlaku lebih dan menjadi lebih. Maka anda memimpin dan anda adalah sesungguhnya pemimpin itu.

    - Bhajananandi-Tulasi Sudama Das -

    April 13, 2014

     
     
     
  7.  

    Aparadha berasal dari kata “apa” dan “radha”. Terjemahan bebasnya, “apa” dapat diartikan “tanpa” atau “di luar” atau “kebalikan/bertentangan” dan “radha” artinya “yang memuaskan/menyenangkan hati Krishna dalam bhakti”. Jadi sederhananya aparadha dapat diartikan “tanpa sesuatu yang menyenangkan hati Krishna”, atau, “kebalikan dari sesuatu yang memuaskan Krishna”..

    Maharaj Bhaktivisrambha seringkali menjelaskan bahwa aparadha adalah soal mentalitas, yaitu mentalitas yang buruk atau mentalitas yang salah/keliru. Aparadha jenis apa pun itu, baik seva-aparadha, vaisnava-aparadha, nama-aparadha dan aparadha-aparadha lainnya, semua adalah soal mentalitas yang buruk..

    Umumnya kita memahami aparadha sebagai “kesalahan” atau “berbuat salah”. Kata “kesalahan” ini sebenarnya kurang mencerminkan maksud dari kata aparadha itu. Terjemahan kata Sanskerta “aparadha” ke dalam bahasa Inggris adalah “offenses”, dan offenses ini kemudian umumnya diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi “kesalahan”…

    Padahal dalam bahasa Inggris makna kata offenses ini lebih luas atau bermuatan, yakni dapat dikatakan mencerminkan suatu sikap mental tertentu. Kata “offense” bermakna “serangan”, atau bahkan lebih spesifik dapat berarti “menyakiti hati”. Jadi bukan sekedar “kesalahan”, sebab masih ada banyak kata lain jika hanya sekedar bermakna kesalahan misalnya, “faults”, “mistakes”, “wrongs”, atau “errors”, tetapi kata aparadha hampir tidak pernah diterjemahkan dalam bahasa Inggris menjadi selain “offense”..

    Mengenai kata “offense”, dapat dipahami dengan contoh di bidang sepak bola. Offense menjadi offensive, atau cenderung menyerang. Sebuah tim yang agresif menyerang disebut tim dengan strategi offensive. Kebalikannya adalah deffensive, atau bertahan…

    Jadi kata “offenses” bermakna kecenderungan menyerang, atau mentalitas menyerang, yang artinya mentalitas yang buruk, mentalitas yang keliru. Bukan sekedar kesalahan, atau berbuat salah…

    Kesalahan sendiri adalah hal yang manusiawi, hal yang sangat wajar dilakukan manusia, dan bukan itu yang sejatinya menjadi poin terkait aparadha, melainkan soal mentalitas yang buruk, mentalitas yang cenderung menyerang…

    Semoga tulisan ini dapat membantu pemahaman tentang aparadha…

    - Anantavijaya Das -

    April 13, 2014

     
     
     
  8.  

    When people hurt us, we often want to get back at them, hurt them the way they have hurt us. When things go wrong in life, we may want to get back at life’s supreme controller, God, by resenting or blaspheming him.
    But attacking God is like spitting at the sky – it is the disfigurer who ends up getting disfigured. Resenters and blasphemers find themselves deprived of God’s enlightening wisdom and empowering grace, thereby becoming more vulnerable to the mind’s trivial tantrums and petty passions.
    That’s why when life hurts us, instead of getting back at God, it’s far more intelligent to get God back – to reconnect with him through wisdom and devotion. This is illustrated in the narrative of the Bhagavad-gita.
    At the Gita’s start, Arjuna faced a heart-wrenching crisis: he had to fight and slay his venerable elders such as his grandfather and his martial teacher. Prior to this traumatic war, he and his family had been victimized repeatedly by the relentless machinations of his evil cousins. Considering how atrocious his past sufferings were and how agonizing his present predicament was, he could have blamed God for the unfairness of life.
    But instead of trying to vindictively get back at God, he sought to get God back by turning to him for counsel. Soon Krishna’s words of wisdom illumined him. And his confusion dissipated and his determination returned, as the Gita (18.73) reveals. His renewed resolve to serve reinstalled Krishna back in his heart, and life’s supreme success followed.
    Krishna is present in our heart, at the helm of the chariot of our body. Just as he empowered Arjuna, he wants to empower us too. He is just waiting for us to get him back into our consciousness. Why should we keep him waiting any more?

    - Gita Daily -

    April 05, 2014

     
     
     
  9.  

    Detik pemilu, memilukan lukaku dulu. Senandung korupsi, adalah lagu favorit pejabat nanti.

    - @titiksunyi (via indonesiasastra) -

    April 05, 2014

     
     
     
  10.  

    Detik pemilu, memilukan lukaku dulu. Senandung korupsi, adalah lagu favorit pejabat nanti.

    - @titiksunyi (via indonesiasastra) -

    April 05, 2014

     
     
     
  11.  

    (Source: simplereminders.com, via carmenbass)

    April 02, 2014

     
     
     
     
     
  12.  

    "Jangan hidup untuk mencari pengalaman"
    Sudah banyak orang yang tanpa sadar menjadi peniliti-peneliti kecil di dunia ini, hingga akhirnya setiap detik, setiap orang berusaha membayar pengalamanya. Ketika seseorang menyampaikan realisasi serta pengalamanya dalam hidup dia sebenarnya orang yg tulus mengharapkan kebaikan anda karena dia selama ini sibuk mengupas kulitnya dengan wktu yg lama diiringi letih, perjuangan serta pilu sekarang dia ingin membagikan buahnya tersebut. Ada 3 jenis seseorang belajar di dunia ini 1. Dari mendengar dia belajar 2. Dari pengalaman dia belajar 3. Dia mendapat pengalaman mendengar tetapi dia tidak belajar. Oleh karena di dalam kesadaran Krishna seseorang dilatih sravanam.. mendengar dgn baik. Bwa esensi ini dalam hidup jadilah pribadi yg bijaksana

    - Bhajananandi-Tulasi Sudama Das -

    March 11, 2014

     
     
     
  13.  

    Yang disebut pengajaran dan menerima pengajaran sebenarnya hanya dimaksudkan semata-mata membantu seseseorang untuk mereka dapat membantu dirinya sendiri. Pada akhirnya anda yg harus berjuang sendiri di dalamnya. Barometer belajar buat sy sendiri sebenarnya hanya pertanyaan pertanyaan sederhana dalam diri “apakah sy sekarang sy bs membantu diri sy sendiri” ?

    Keharmonisan dalam masyarakat, negara, keagamaan semua berasal dari keharmonisan yg berasal pada diri sendiri yg tertuang dalam beberapa jenis lingkungan ini. Bagaimana mungkin kita menciptakan keharmonisan, jika pribadi diri tidak dalam keharmonisan ini.

    - Bhajananandi-Tulasi Sudama Das -

    March 11, 2014

     
     
     
  14.  

    Nothing is so bitter that a calm mind cannot find comfort in it.

    - Lucius Annaeus Seneca. (via quotedojo) -

    March 09, 2014

     
     
     
  15.  

    When you say you are in love with humanity, you are well satisfied with yourself.

    - Luigi Pirandello. (via quotedojo) -

    March 09, 2014