Web Toolbar by Wibiya
 
  1.  

    Jika anda hidup di dunia ini sendiri dan anda memiliki kekayaan yang tidak terbatas,ketampanan, pengetahuan, tetapi anda hanya sendiri di dunia ini, yang ada andahanya akan frustasi. Tetapi suatu ketika ada burung kecil yang datang menghampiri anda, tentunya anda akan sangat bahagia menerimanya dan anda akan merasa semua yang anda miliki seperti kekayaan dan lain sebagainya seolah tidak ada artinya dibandingkan keberadaan burung kecil ini yang dapat menemani anda.
    Ketika kita berbicara tentang cinta, kita berbicara tentang hubungan timbal balik bukanya kecintaan terhadap benda mati seperti rumah, mobil dan lain sebagainya.Dari analogi diatas benda mati hanya akan menyebabkan kita kedalam kefrustasian, karena mereka tidak mampu memberikan hubungan timbal balik yang sebenarnya kita idamkan. Penegasanya bukanya benda mati tidak dibutuhkan didunia ini,tetapi kita sibuk mencari benda mati dan sering lalai melihat kebutuhan akan hubungan.

    - Bhajananandi-Tulasi Sudama Das -

    September 30, 2014

     
     
     
  2.  

    Pada suatu ketika ada 2 sanyasi sebutlah namanya sanyasi A dan sanyasi B, sanyasi a dan sanyasi B sesungguhnya dari wilayah yang berbeda, suatu ketika sanyasi A dan sanyasi B bertemu dan memutuskan untuk melakukan perjalanan bersama – sama. Selama perjalanan mereka berjapa dan kadang-kadang diskusi tentang filosofi vedanta, singkat cerita sampailah mereka di suatu sungai disanalah mereka melihat wanita yg sangat cantik, dan seketika wanita cantik itu menghampiri kedua sanyasi ini dengan penuh rasa takut wanita ini meminta kedua sanyasi ini “Mohon bantuanya, sebrangkanlah sy, sy tidak berani untuk menyebrang sungai ini , airnya sungguh sangat deras” sanyasi A menjawab: “Mohon maaf….. !! sy tidak bisa, jangankan untuk menyebrangkan, menyentuh badan dari wanita merupakan pantangan untuk sy” wanita inipun merasa sedih dan memalingkan wajah ke sanyasi B, sanyasi B menjawab “ Ya saya akan membantu anda mari..”
    – sanyasi B menyebrangkan wanita cantik ini ke seberang sungai dan kembali ke sanyasi A untuk bersama-sama melakukan perjalanan –
    Dengan penuh rasa bingung sanyasi A bertanya ke sanyasi B, “ Saya tidak habis pikir kenapa anda melakukan hal ini, tahukah anda itu melanggar aturan, tidak seharusnya anda melakukan hal itu” sanyasi B tidak menjawab pertanyaan sanyasi A dan tetap berjalan, sepanjang 5 km kembali sanyasi A bertanya ke sanyasi B “mengapa anda tidak menjawab pertanyaan sy, ini benar-benar melanggar aturan, anda tidak berhak menjadi sanyasi karena melakukan hal ini, anda memeluk wanita itu……. Wa- ni- ta dengan wajah yg manis itu dan tubuh yg cantik sungguh merupakan pantangan buat sanyasi untuk melakukanya, bahkan di sastra dinyatakan bahkan ibu, saudara sekalipun kita hendaknya tidak pernah sendiri dengan wanita. Setelah mendengar hal ini sanyasi B memandang sanyasi A sejenak….. dan sanyasi B menjawab “ayo pergi kita harus bergegas sebari mengambil tasbihnya” dengan khusuknya mengucapkan mantra Hare Krsna, akhirnya sanyasi ini menempuh jarak 15km, dan sampai halnya sanyasi A karena begitu kesalnya, sanyasi A tiba-tiba menyuruh sanyasi B berhenti. Dan sanyasi A bertanya “ sekarang sy mau mendengar jawaban anda, jawablah!!!! Mengapa anda melanggar etika dari sanyasi ?? sy masih terbayang bagaimana anda memeluk wanita itu, -sebari mengejek sanyasi B-
    anda melakukan hal yang tidak terhormat” sanyasi B berpaling ke sanyasi A dan bertanya …. Saya hanya bingung kenapa anda melakukan hal itu !!! sanyasi B menjawab: SAYA JUGA BINGUNG…. Saya bingung kenapa anda masih melakukan hal yang sama dan membawa wanita tersebut dipikiran anda sampai sejauh ini, saya bahkan telah melupakan kejadian itu ????????????????????
    Cerita ini mencerminkan kedudukan sesungguhnya pelepasan ikatan yang dapat kita mulai dari pelepasan ikatan dari membicarakan keburukan orang lain.

    - Bhajananandi-Tulasi Sudama Das -

    September 30, 2014

     
     
     
  3.  

    Setuju sih… Cinta itu suci. Tapi banyak yang sudah tak suci karenanya saat ini… Kalau dilihat dari cinta bhakti yg murni kepada yg kuasa ini ada benernya juga, para penyair itu ternyata gk salah menyimpulkan arti cinta… kwkkwkww…

    - Bhajananandi-Tulasi Sudama Das -

    September 30, 2014

     
     
     
  4.  

    Pada akhirnya seseorang akan kembali kepada Sri Krsna. Karena sejauh apapun dia mencari pada akhirnya dia hanya bisa meminta. nityo nityanam cetanas cetananam eko bahunam yo vidhadahati kaman… beliau yg memenuhi segala keinginan, kita hanya meminta disegenap asa kita.

    - Bhajananandi-Tulasi Sudama Das -

    September 30, 2014

     
     
     
  5.  

    Ada yang tak mencari, namun segera menemukan, karena ia tak sibuk mencari tapi sibuk memperbaiki diri, mengutamakan karunia beliau yg tiada sebabnya. Kita memasuki zaman dimana yang buruk dipuji, yang baik dihina. Yang tulus disangka buruk, yang bermukadua dibangga-banggakan, kini kita berjuang hanya untuk dapat menerima diri sendiri dan orang lain, dan tetap melangkah dengan jujur.

    - Bhajanandi-Tulasi Sudama Das -

    September 30, 2014

     
     
     
  6.  

    September 30, 2014

    Keren

    (Source: solar-citrus, via jasmineyash)

     
     
     
  7.  

    September 25, 2014

    muchukunda:

    watch later

     
     
     
  8.  

    Kita mungkin jatuh cinta kepada kecantikan seseorang atau ketampananya, tetapi ingat akhirnya kita akan hidup dengan karakternya, mencintai karakternya, bukan kecantikan maupun ketampanya.
    Karakter adalah cinta, jika kita ingin mempunyai karakter yg penuh cinta kasih, bhakti, kita harus mempunyai karakter yg baik. Kesadaran Krsna tentang pembangunan karakter, semakin kita mempunyai karakter yg baik semakin kita bisa mencintai dan dicintai.

    - Bhajananandi-Tulasi Sudama Das -

    September 22, 2014

     
     
     
  9.  

    Ada saatnya nanti disaat kita akan tua renta, tidak ada ketenaran, tidak ada kebanggaan lagi dengan diri yg telah lusuh ini, yang tersisa hanya cinta yg terus tetap berjuang untuk menerima. Menerima keadaan, menerima kenyataan, dan menerima yg lainya. Pada akhirnya kita hanya akan hidup dalam cinta yg ada dalam diri kita. Mungkin pada saat itu kita baru akan belajar berserah diri kepada Sri Krsna, atau menyesal dengan keadaan. Badan yg telah lusuh ini juga tidak mampu bangkit bahkan untuk mengubah keadaan menjadi sedikit lebih baik. Dia, cinta… kini menjadi sahabat, membuat diri damai, yg berusaha menenangkan kita setiap saat. Kita sebenarnya saat ini hanya hidup dan berjuang untuk cinta. Semoga terus disemangatkan

    - Bhajananandi-Tulasi Sudama Das -

    September 22, 2014

     
     
     
  10.  

    From authoritative scripture it is learned that Prahläda Mahäräja still lives in Vaikuëöhaloka as well as within this material world on the planet Sutala. This transcendental quality of existing simultaneously in different places is another qualification of the Supreme Personality of Godhead. Goloka eva nivasaty akhilätma-bhütaù: [Bs. 5.37] the Lord appears in the core of everyone’s heart, yet He exists on His own planet, Goloka Våndävana. A devotee acquires qualities almost the same as those of the Lord because of unalloyed devotional service. Ordinary living beings cannot be so qualified, but a devotee can be qualified like the Supreme Personality of Godhead, not in full but partially.

    - SB.7.4.34 -

    September 18, 2014

     
     
     
  11.  

    Cara kita merespon hal-hal kecil atau hal-hal yang seolah remeh mencerminkan cara bagaimana kita akan merespon hal-hal yang lebih besar dalam hidup ini. Kebiasaan buruk dan baik dimulai dari kegiatan kecil yg sama yg kita lakukan tanpa sadar selama ini, hal tersebut yg akhirnya membentuk karakter kita hari ini. Jika kita perhatikan persis kita melakukan hal yg sama berulang kali, kesalahan yg sama berulang kali, setiap saat. Kita kurang sadar apa yg kita lakukan selama ini, jika kita sadar kita akan mengerti dan selanjutnya lebih baik lagi dan lagi merespon kesalahan yg sama, pada akhirnya menjadi lebih baik.
    Pada akhirnya memang pengembangan karakter yg membuat seseorang menjadi orang yang besar bukan pencapaianya. Orang mungkin saja mencapai segala hal di dunia, karakter yg minim setiap saat membuat mereka kembali jatuh. Kesadaran Krishna adalah tentang pengembangan karakter diri.

    - Bhajananandi-Tulasi Sudama Das -

    September 16, 2014

     
     
     
  12.  

    Besarnya keyakinan seseorang dalam berjapa ditunjukan dari bagaimana dia dapat menghormati. Telah banyak uraian dalam Veda menyatakan seseorang yang bahkan sekali mengucapkan nama suci Tuhan mereka bukan orang yg biasa, mereka mulia. Ketika kita tidak bisa menghormati, dan memulai mengkritisi, keyakinan ini yg dipertanyakan ?

    - Bhajananandi-Tulasi Sudama Das -

    September 15, 2014

     
     
     
  13.  

    Kewajiban selalu lebih banyak dari waktu yang tersedia, karena itu bantulah orang lain untuk memanfaatkan waktunya. Pada akhirnya semua di dunia bukan tentang menyelesaikan, bukan juga tentang menjalani, tapi tentang memanfaatkan. Mereka yg sukses, hanya mereka yg dapat menempatkan presisi yg tepat dalam setiap keadaan, setiap waktu. Penegasanya bukan tidak ada waktu… saya pikir hidup ini tentang memaknai arti sebuah prioritas…

    - Bhajananandi-Tulasi Sudama Das -

    September 15, 2014

     
     
     
  14.  

    Pesan saya hanya “Jangan pernah melupakan seorang yg menyatakan sesuatu kepada anda ketika dia marah” Itu bener-bener disaat kita mendapat kejujuran tentang diri kita darinya, apa yg sebenarnya mereka lihat dari diri kita, dan kejujuran ini tidak akan anda dapatkan ketika keadaan biasa saja. Kebanyakan seseorang menutupi hal itu rapat-rapat. Ya.. selanjutnya saatnya mengkoreksi diri…
    Marah diciptakan oleh Tuhan bukan tanpa sebab. Semua itu ada untuk kita dapat mengerti, untuk kita dapat sensitif dalam pergaulan, mengerti pribadi seseorang, menjaga hati, meningkatkan diri dalam kesopanan, etika dan lain sebagainya. Daripada kita menyerang balik seseorang yg sedang marah kepada kita, kita tetap ambil semua yg dia nyatakan sebagai introspeksi diri. Keinsafan atau introspeksi dalam kondisi tegang seperti ini, tidak bisa kita lakukan jika kita tidak mempunyai pengendalian diri, super sabar, dan ingin mengevaluasi diri, pada kondisi ini kita cenderung membalas bukan menerima. Salah satu penyebab perselisihan, salah paham hanya, orang mendengar untuk membalas bukan menerima.

    - Bhajananandi-Tulasi Sudama Das -

    September 15, 2014

     
     
     
  15.  

    September 15, 2014