Web Toolbar by Wibiya
 
  1.  

    Banyak dari mereka yang ketika jatuh cinta, mereka membiarkan hatinya jatuh terlalu dalam tanpa tali pengaman. Hingga pada akhirnya mereka ditinggalkan dan tenggelam, tak ada yang mampu menyelamatkan. Yang tersisa hanyalah goresan dan kenangan. Istilah jatuh cinta memang paling tepat untuk hal ini, cintanya yg jatuh, atau jatuh karena cinta, mungkin itu yg dimaksud dengan jatuh cinta di dunia ini. Nah… kalau cinta yg itu hehehehe… gak ada istilah jatuh… itu naik..

    - Bhajananandi-Tulasi Sudama Das -

    August 23, 2014

     
     
     
  2.  

    Doa bukan untuk meminta Sri Krsna menyelesaikan masalah. Tapi meminta diri sendiri lebih percaya bahwa kita mampu menyelesaikan masalah di dunia ini, dengan terus berlindung kepada beliau. Pada akhirnya kita akan mengerti menyelesaikan masalah bermakna menjadikan diri kita lebih kuat dari masalah yg ada, dan tenang.

    Kesengsaraan di dunia ini bersikap variatif di dalam setiap orang. Maka dari itu kita akan temukan banyak kutipan tentang hal ini di Bhagavatam dan Bhagavad Gita “Kesengsaraan adanya di pikiran”. Pikiran dalam hal ini berfungsi sebagai penyedia data, penyediaan data ini dapat berupa masa kini dan masa lampau, Pikiran ini juga membentuk sifat bawaan yang ada pada diri kita sesuai dengan kehidupan kita yang lampau, oleh karena itu pikiran itu bukan merupakan ciptaan dari proses otak, tetapi sesuatu energi yang ada, yang menjadi fungsi pengendali dalam kegiatan kita.Dapat disimpulkan bahwa pikiran menjadi peran yang sentral dalam proses identifikasi terhadap badan, apapun yg dirasakan oleh badan akan di bawa oleh pikiran dalam bentuk kesan, yang dapat berupa rasa sakit, senang dan lain sebagainya.

    Mungkin salah satu dari kita mengenal buku “The secret” yg mengisahkan kekuatan dari pikiran, bagaimana dengan mengendalikan pikiran seseorang dapat mengendalikan masa depan, kondisi badan, terlebih naluri yg termotivasi yang pada akhrinya menciptakan kemampuan dahsyat dari manusia. Menurut saya itu tidak mengherankan karena semakin pikiran itu kuat, badan juga akan mengalami kedudukan yg sama. Terkadang yg ada pada diri kita adalah pikiran itu lemah, ketika pikiran itu lemah semua kegiatan akan terasa berat dan sulit, bahkan terasa tidak mungkin, disinilah tempat dimana pikiran itu hanya menjadi dinding pembatas kemajuan diri.

    - Bhajananandi-Tulasi Sudama Das -

    August 23, 2014

     
     
     
  3.  

    Teruslah beralasan pergi hanya karena ingin mencari sesorang yg lebih baik, hingga pada akhirnya, kita akan temukan diri kita yg pada saat itu belum bisa menjadi pribadi yg lebih baik untuk dapat menerima. Ketika segala sesuatu menuntut kita harus membenci namun kedewasaan menawarkan pembebasan akan rasa benci. Ketika luka menuntut pembalasan, kedewasaan justru menawarkan pemaafan. Ketika kita memilih pergi, kedewasaan justru menawarkan tinggal dan belajar…….. Tidak ada yg didapatkan dari seseorang yg hanya pergi… seseorang mendapat sesuatu karena dia berusaha tinggal dan membangun diri.

    - Bhajananandi-Tulasi Sudama Das -

    August 23, 2014

     
     
     
  4.  

    Mengusahakan tidak selalu berarti mencari sesuatu. Mempersiapkan diri juga bentuk usaha, hingga jika kesempatan datang kita benar-benar sudah siap untuk meraihnya. Kedua hal ini yg kita tidak seimbangkan, maka yg terjadi adalah ketika kita berusaha dan mendapatkan sesuatu, kita merasa diri kita tidak siap, ketika kita siap tapi tidak berusaha, kita menjadi malas dan berakhir dengan putus asa, menganggap semua usaha kita sia-sia. —

    - Bhajananandi-Tulasi Sudama Das -

    August 22, 2014

     
     
     
  5.  

    Orang yg mendikte dengan membawa rasa takut, akan ditakuti dan dituruti. Namun orang yg memberi tahu dengan lemah lembut, akan dihormati dan diikuti tanpa meminta. Percayalah… Kebaikan hanya bisa disampaikan dengan kasih sayang.

    - Bhajananandi-Tulasi Sudama Das -

    August 22, 2014

     
     
     
  6.  

    Adil bukan suatu yg kita bagi rata, bukan juga kesenangan maupun kebahagiaan yg kita rasakan. Konsep yang paling sederhana soal adil adalah menempatkan sesuatu hal pada tempatnya, kepada Krsna. Kita merasa diri kita tidak diperlakukan adil. Mungkin selama ini berlaku tidak adil terhadap kehendak semesta, Krsna. Beliau mengetahui segalanya, beliau bertindak dengan masing-masing individu dengan cara yg unik, sesungguhnya hanya Krsna yg tahu bagaimana tepatnya kita bisa mencapai beliau saat ini.Tugas kita hanya bersedia menerima bimbingan beliau, menerima kesulitan sebagai langkah untuk maju. Kesulitan akan tetap ada, tergantung dari kita, apakah kita mau belajar darinya atau tidak ?

    - Bhajananandi-Tulasi Sudama Das -

    August 22, 2014

     
     
     
  7.  

    Sabarlah… Sri Krsna, para penyembah murnipun yg turun masih ada yg iri, berusaha menyakiti dan benci. Dan kita mengharapkan semua akan sayang-sayang aja……. yang dimaksud dengan ‘penyembah murni tidak mempunyai musuh’ adalah dia tidak pernah menganggap maupun berpikir seseorang menjadi musuhnya, itu kenyataaanya. Mereka sedang berperang melawan diri mereka sendiri ketika mereka mengekspresikan rasa iri, benci, marah dan lain sebagainya., kita hendaknya berusaha berbelas kasih terhadapnya. Seseorang penyembah itu tulus, dia tulus……. dan ketulusan itu hanya akan ada kepada seseorang yg mengerti…..

    - Bhajananandi-Tulasi Sudama Das -

    August 22, 2014

     
     
     
  8.  

    Seringkali kita kehilangan banyak waktu dengan merencanakan. Sedangkan dengan langsung melakukan, kita merasa kehilangan persiapan. Kadang, kita perlu banyak kehilangan juga untuk sekedar belajar menghargai apa yang kita miliki. Hidup ini memang tak bisa semuanya sesuai maumu. Ada yang harus diterima; walau tak mengerti, ada yang harus dipertahankan karena prinsip.

    - Bhajananandi-Tulasi Sudama Das -

    August 22, 2014

     
     
     
  9.  

    Kenapa bintang terlihat begitu indah, bukan karena ia bersinar, tetapi ia hadir di antara ruang gelap yang luas, ia menjadi hiasan langit yang kala itu hitam, bayangkan bila bintang hadir di kala siang, ia kalah oleh matahari. Kita perlu menjadi bintang kecil di dunia ini, jika kita bisa bersabar dalam hal terburuk sekalipun, maka sabar itu yang membuat kita bersinar dan nampak indah di depan Sang Pencipta.

    - Bhajananandi-Tulasi Sudama Das -

    August 22, 2014

     
     
     
  10.  

    Suatu hari kita akan berterimakasih pada orang-orang yang menolak membantu kita untuk bangkit dari keterpurukan. Karena mereka menolak, kita mampu bangkit sendiri.

    - Bhajananandi-Tulasi Sudama Das -

    August 22, 2014

     
     
     
  11.  

    Membangun sebuah hubungan itu butuh setiap orang yang solid. Yang sama-sama kuat. Bukan yang saling ngisi kelemahan. Karena untuk menjadi kuat, adalah tanggung jawab masing-masing orang. Bukan tanggung jawab orang lain.

    - Bhajananandi-Tulasi Sudama Das -

    August 21, 2014

     
     
     
  12.  

    khlas Itu?

    IKHLAS itu seumpama EMAS
    yang nilainya ditentukan pada keMURNIannya
    bukan pada beratnya.

    IKHLAS itu seumpama MADU
    yang keMURNIannya ditandai dengan
    tidak bercampurnya ia dengan sesuatu apa pun.

    IKHLAS itu seumpama UDARA
    yang sekedar dirasa keberadaannya
    dan tak dapat dilihat wujudnya.

    IKHLAS itu seumpama TUJUAN
    yang arahnya hanya kepada ALLAH Swt
    bukan kepada selain DIA.

    IKHLAS itu SUNYI
    dari segala keakuan diri
    tentang segala perbuatan baik diri,
    baik keakuan yang diucap-ucapkan
    maupun keakuan di dalam hati.

    IKHLAS itu penyangkalan pengakuan dalam diri
    tentang apa pun peran diri,
    serta menetapkan dalam diri
    bahwa semuanya atas peran Allah Swt.

    Ikhlas yang diucap-ucapkan itu bukanlah keikhlasan.
    IKHLAS itu RAHASIA antara dirimu dan Allah Swt.

    - Unknown Source -

    August 20, 2014

     
     
     
  13.  

    Menangislah……… karena ketika wanita menangis ia menjadi kuat, ketika lelaki menangis ia menjadi lebih lembut. Dalam meluapkan emosi rasa tangis yg menjawab semua itu.. Satu hal yg bisa dipastikan; menangis adalah ekspresi murni yg ada dalam diri menjawab semua tantangan yg ada yg melibatkan hati di dalamnya. Orang yg benar-benar benci enggak akan bisa menangis, orang yg menangis hanya karena dia melibatkan hati di dalamnya. Ketika kita teringat moment dimana kita berdoa kepada Tuhan mengeluarkan air mata, kita bisa pastikan bahwa kita telah menempatkan hati di dalamnya. Bahkan dalam kebahagiaan rohani, rasa tangis yg keluar dari hal ini adalah sebagai jawaban kebahagiaan yg tinggi yg ada dalam diri, ‘sebagai jawaban kegiatan yg dilakukan oleh hati’. Tentunya rasa yg “terputar balik (reflected)” di dunia ini ini tidak bisa sama sekali dibandingkan, tetapi ini dapat memberi gambaran sebagian kecil dari hal ini.

    Kelas Srila Prabhupada hari ini tentang “menangis untuk Sri Krsna” itu mungkin kenapa postingan ini medadak meleset ksna… hehehe..… Semoga dapat menginspirasi hari ini…

    - Bhajananandi-Tulasi Sudama Das -

    August 20, 2014

     
     
     
  14.  

    “Nobody can hurt me without my permission.” -Mahatma Gandhi. Jika kita lihat setengah pernyataan ini mungkin terlihat ego, tp tidak seperti itu kenyataanya. Sesungguhnya pernyataan Mahatma Gandhi ini juga disampaikan oleh Bhaktisidhanta Sarasvati Thakur dalam konteks glory Gaudiya Vaisnava, Refrensinya dapat ditemukan di Bhaktisidhanta Vaibhava “Nectar Instruction of Bhaktisidhanta Sarasvati Thakura” yg diterjemahkan oleh H.H Bhakti Vikas Maharaja. Jika kita berusaha berpikir lebih dalam apa yg sebenarnya beliau maksud dengan pernyataan ini, kita analisa dengan cermat, kita dapat temukan pengertian mendalam prinsip Gaudiya Vaisnava.

    Di kehidupan manusia setiap orang memiliki kesempatan memiliki kemampuan tanpa batas, melampaui kedudukan karmanya. Manusia memiliki hak penuh untuk dapat merubah dirinya dan memutuskan dia di dalam karmanya maupun keluar dari kedudukan karmanya saat ini. Dia memiliki kesempatan penuh untuk menderita ataupun berbahagia saat ini. Di dalam diskusi tentang keagungan memiliki badan manusia di dalam Srimad Bhagavatam, kita akan temukan banyak refrensi tentang hal ini. Dan sungguh.. karma tidak menjadi pembatas dalam bhakti dan halangan mendapatkan hal ini. Karena itu disebut dengan Bhakti, Bhakti mutlak dapat dimiliki setiap orang saat ini, kesempatan itu dimiliki setiap individu hari ini. Inilah keagungan dari Bhakti. Karena kita memilih untuk mengalah dalam karma kita dan mengijinkan diri kita larut di dalam reaksi karma, maka itu kita merasakan reaksi karma kita saat ini. Vaisnava, penyembah murni dapat dengan leluasa lepas dari kedudukan penderitaan karena mereka sepenuhnya bebas dari hukum karma. Singkatnya, Ini merupakan “free will” makhluk hidup, Sri Krsna tidak pernah bertindak melampaui hal ini, walaupun beliau mampu untuk melakukan hali itu. Bahkan dalam kegiatan rohanipun, karena penyembah beliau menginginkan menjadi alat dengan kata lain mengijinkan sesuatu terhadapnya terjadi untuk kepuasan Sri Krsna, maka Sri Krsna bertindak di dalamnya.

    Semua contoh yg disebutkan hanya untuk memberikan sedikit penjelasan, karena jiwa mengijinkan sesuatu terjadi terhadapnya, maka dari itu sang jiwa mendapatkan sesuatu yg disebut karma, dan lain sebagainya di dunia ini. Di kedudukanya rohaninya jiwa dapat melampaui hal ini bebas dari kesakitan fisik, mental, dan segala gangguan lainya di dunia ini.

    Tentunya ini tidak bs menjelaskan secara detail yg dimaksud, setidaknya rangkuman singkat ini mudah2n dapat memberi gambaran tentang hal yg sempat menjadi pertanyaan di inbox maupun comment, dan sekaligus klarifikasi dan memberi konteks penempatan kalimat tersebut. Semoga dapat bermanfaat dan menjadikan diri kita bersemangat dalam kesadaran Krsna Hare Krishna…

    - Bhajananandi-Tulasi Sudama Das -

    August 20, 2014

     
     
     
  15.  

    Japa aja… otomatis kita akan rendah hati. ….. lihat kenyataan seberapa jauhnya kita perlu berjuang… wajar jika kegiatan itu tidak menjadi hal favorit kita, karena disana kita akan dihadapkan kenyataan diri kita. Japa adalah saat yg paling jujur yg pernah kita lalui dalam hidup. Japa merupakan hubungan langsung kepada Krsna, dan disaat yg sama kita di hadapkan kenyataan seberapa buruknya masih hubungan itu. Jujur…. dan kita akan secara otomatis menjadi pribadi yg rendah hati…

    - Bhajananandi-Tulasi Sudama Das -

    August 20, 2014